Rabu, 19 Oktober 2011

LANGUE AND PAROLE

(DITINJAU DARI ELEMENTS OF SEMIOLOGY oleh ROLAND BARTHES)

PENDAHULUAN

            Pokok bahasan paper ini adalah Langue dan Parole, sesuai dengan judul bab pertama dalam buku Ĕléments de Sémiologie yang ditulis oleh Roland Barthes dengan menggunakan Bahasa Perancis sebagai media tuturnya. Buku itu kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul Elements of Semiology, dimana bab pertama dalam buku tersebut, yang menjadi pokok bahasan paper ini, diberi judul Language and Speech. Paper ini juga merujuk edisi Bahasa Indonesia dari buku tersebut, Petualangan Semiologi. Buku Elements of Semiologi dan Petualangan Semiologi menjadi buku rujukan utama saat berdiskusi tentang Langue dan Parole dipilih karena kedua buku tersebut diterjemahkan langsung ke dalam edisi Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dari Bahasa Perancis, sebagai bahasa tutur asal buku Ĕléments de Sémiologie. Edisi Bahasa Inggris, Elements of Semiology, menjadi rujukan utama karena Bahasa Inggris memiliki perbendaharaan kosakata yang lebih kaya dan lebih luas dibandingkan kosa kata Bahasa Indonesia, sehingga edisi Bahasa Inggris mampu mendiskripsikan istilah yang digunakan Roland Barthes dengan lebih luas dan ceruk. Edisi Bahasa Indonesia, Petualangan Semiologi, lebih mudah dipahami karena penerjemah menuliskan beberapa istilah asal dari Bahasa Perancis dan mendeskripsikannya secara singkat. Selain itu, penerjemah Bahasa Indonesia menuliskan alasan ia memilih diksi tertentu untuk menerjemahkan istilah yang dipakai Roland Barthes, dengan merujuk dan membandingkan diksi-diksi tersebut untuk meminimalisir misinterpretasi dari istilah yg dimaksud (dapat dipahami bahwa beberapa istilah yang dipakai di dalam Bahasa Indonesia sebagai istilah serapan dari bahasa Perancis terasa barbar).
            Elements of Semiology, untuk selanjutnya buku yang ditulis oleh Roland Barthes ini akan menjadi referensi utama dalam paper ini. Di dalam buku ini, Roland Barthes melakukan ekstensi teori linguistik modern yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure. Roland Barthes kemudian mengembangkan lebih jauh teori linguistik modern itu untuk menerapkannya ke dalam kajian semiologi. Menurut Roland Barthes yang terungkap dalam buku ini, semiologi adalah bagian dari linguistik dimana linguistik bukan bagian dari pengetahuan umum tentang tanda. Semiologi  mencakup penjelasan kesatuan-kesatuan besar yang menandakan dari diskursus. Melalui semiologi, diharapkan dapat menjelaskan kesatuan penelitian saat ini di dalam kajian lain, seperti halnya antropologi, sosiologi, psikoanalisis, dan ilmu gaya bahasa sekitar konsep tentang arti (Elements of Semiology, hlm. 11). Seperti yang telah disebutkan di atas, paper ini menjadikan Langue dan Parole, yang merupakan bab 1 dari buku Elements of Semiology sebagai pokok bahasan utamanya. Arti penting dari bab 1 tentang Langue dan Parole menurut Roland Barthes mencakup dua hal. Hal yang pertama adalah historiositas bahasa, yaitu sejarah dan perkembangan bahasa di dalam masyarakat. Hal yang kedua adalah sosio antropologi bahasa penggunaan bahasa di dalam masyarakat.
            Istilah Langue dan Parole dipilih oleh kelompok pembahas ini bukannya tanpa alasan, dimana di dalam buku Elements of Semiology istilah Language dan Speech adalah istilah yang digunakan. Alasan utama penggunaan istilah langue dan parole merujuk pada pemikiran awal Ferdinand de Saussure yang menyadari tiga kata dalam Bahasa Perancis yaitu langue, parole dan langage mengandung pengertian bahasa, tetapi cukup berbeda. Saussure menggunakan ketiga kata tersebut untuk menjelaskan aspek-aspek bahasa. Dengan menggunakan kata dari bahasa asal, Bahasa Perancis, kelompok pembahas berharap bahwa aspek-aspek bahasa bisa dijelaskan lebih baik dan lebih dekat dengan bahasa asalnya. Selain itu, kelompok pembahas menyadari bahwa Bahasa Inggris memiliki keterbatasan kosakata dibandingkan Bahasa Perancis. Di dalam Bahasa Inggris, kata yang berkaitan dengan bahasa adalah kata language (Bahasa Indonesia = Bahasa). Kata language ini memiliki ambivalensi arti yang menunjuk dua aspek berbeda yang dimaksudkan oleh Saussure, langage dan langue. Sehingga, kerancuan dapat timbul saat membahas language asebagai langue atau langage. Dengan demikian, kelompok pembahas menimbang untuk meminimalkan kesalahpahaman pengertian baik saat masing-masing anggota kelompok membaca Elements of Semiology, maupun saat melakukan presentasi di kelas. Tentu disadari oleh setiap anggota kelompok bahwa pada saat masing-masing individu mendapati kata language saat membaca Elements of Semiology, individu kemungkinan besar akan memiliki referensi kata bahasa (sebagai terjemahan dari kata language) di dalam pikiran mentalnya, yang mana akan memberikan kerancuan antara konsep language dan langue.
           
Tujuan dari pembahasan bab satu ini adalah selain sebagai tugas kelompok kelas Semiotika, penulisan paper ini adalah untuk meninjau ulang secara singkat tentang Langue and Parole, dimana selanjutnya akan dipresentasikan di dalam salah satu sesi kelas Semiotika kepada rekan-rekan sekelas.   

LANGUE DAN PAROLE
(Element-element of Semiology ; Roland Barthes)
1. Dalam Linguistik
Langue dan Parole menurut Saussure adalah sesuatu yang baru dibandingkan dengan  kajian linguistik sebelumnya, yang membahas historis dari bahasa. Saussure berangkat dari natura language yang multiforma dan heteroklit (campur aduk) sehingga sulit untuk diklasifikasikan, karena di dalamnya termasuk yang fisik, fisiologis, mental, dan sosial.
Dari yang campur aduk itu, menurut Saussure, akan lebih jelas jika ditarik dari obyek sosialnya yaitu serangkaian konvensi untuk bisa saling berkomunikasi, yang kemudian Saussure menyebutnya sebagai langue. Sedangkan parole adalah aktualisasi individual dari langue dalam keseluruhan langage. Untuk menjelaskan parole-langue-langage, sebagai contoh: jika langage adalah Bahasa Indonesia, maka langue adalah kaidah Bahasa Indonesia, sedangkan parole adalah penggunaan Bahasa Indonesia oleh individu-individu. Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini adalah sebagai berikut:
Langue adalah langange dikurangi parole, dimana langue adalah institusi sosial dan sistem nilai. Dalam hal ini, individu tidak bisa menciptakan dan memodifikasi langue, karena langue adalah kontrak kolektif. Di dalam kontrak kolektif tersebut ada aspek konstitusional dan aspek sistematis, yang  menjadi institusi sosial dan sistem nilai. Konstitusional memiliki aturan yang di dalamnya memiliki nilai (Fakta sosial dari pengaruh Durkheim: konvensi umum memaksa individu untuk ikut). Institiusi sosial dibutuhkan untuk suatu legalitas bahwa “sesuatu’’ itu sudah menjadi kesepakatan bersama.
Parole adalah tindakan individual yang merupakan kegiatan seleksi dan aktualisasi dari langue. Parole terdiri dari kombinasi-kombinasi yang digunakan subyek untuk menggunakan langue sebagai cara mengungkapkan pemikiran pribadinya. Dalam hal ini, misalnya, fonasi atau pembunyian masing-masing individu tidak bisa disamakan dengan langue sebagai institusi konvensional. Maksudnya, langue tidak akan berubah meskipun subyek yang menggunakannya berbicara dengan, misalnya, nada tinggi atau rendah maupun cepat atau lambat.
Langue dan Parole membutuhkan proses dialektika di antara keduanya, karena masing-masing dari kedua terma ini tidak akan memiliki definisi yang penuh: tidak ada langue yang hadir tanpa parole dan tidak ada parole yang hadir di luar langue. Hal ini terjadi karena langue dan parole ada dalam satu hubungan komprehensif yang bersifat resiprok (saling, timbal balik). Di satu sisi, langue adalah “harta yang dikumpulkan” lewat praktek parole. Karena langue adalah satu kumpulan kolektif dari cetakan-cetakan individual, maka tidak bisa menjadi sesuatu yang lengkap pada individu itu sendiri.
Secara historis, fakta-fakta parole selalu mendahului fakta-fakta langue. Parole membuat langue berevolusi; secara genetis, langue hadir dalam individu lewat pembelajaran dengan parole yang mengelilingi indvidu tersebut. Contoh: orang tidak mengajarkan gramatika dan kosakata (langue) pada bayi. Sederhananya, langue adalah sekaligus produk dan instrumen dari parole: dengan demikian langue dan parole adalah suatu dialektika.
Dalam salah satu pembahasan langue dan parole, Barthes menuliskan beberapa hal penting yang diungkapkan Hjemslev; mendistribusikan langue dan parole secara lebih formal. Pada langue, Hjemslev membedakan menjadi tiga wilayah:
-          Skema (langue yang hadir sebagai forma yang murni),
-          Norma (langue sebagai forma material, misalnya; aturan fonologis), dan
-          Usage (langue yang dilihat dari keseluruhan kebiasaan suatu masyarakat tertentu).
Macam-macam hubungan antara parole, usage, norma, dan skema:
-          Norma menentukan usage dan parole,
-          Usage menentukan parole sekaligus ditentukan parole, dan
-          Skema ditentukan sekaligus oleh parole, usage, dan norma.
Dengan demikian muncul dua wilayah fundamental:
-          Skema yang teorinya bercampur dengan teori forma dan institusi.
-          Kelompok Norma-Usage-Parole yang teorinya bercampur dengan teori tentang substansi dan eksekusi.
Karena norma adalah suatu abstraksi murni dan parole adalah konkretisasi sederhana, maka muncullah dikotomi baru skema/usage yang menggantikan langue/parole. Sehingga Hjemslev memformalkan konsep langue secara lebih radikal (dengan nama skema).
Identifikasi langue dengan code dan parole dengan message memunculkan problematika; konvensi-konvensi code adalah eksplisit, sedangkan konvensi-konvensi langue adalah implisit, dengan demikian, bisa dimunculkan problema analog dengan mempertanyakan hubungan-hubungan yang ada antara parole dengan sintagma.
Parole bisa didefinisikan sebagai suatu kombinasi dari signe-signe. Pada langue ada juga sejumlah sintagma yang beku (Saussure menyebutkan satu kata komposit/majemuk macam magnanimus). Kemudian hal itu memunculkan analisis tentang sintagma-sintagma beku yang memiliki natura linguistik (glottis), yang hadir secara utuh di antara variasi-variasi paradigmatis. Variasi yang tidak bersignifikasi tetap bersifat glotis, yaitu variasi yang termasuk dalam langue. Ini juga membentuk suatu korpus signifiant dalam langage sehingga membentuk konotosi yang kuat, yang pada tingkat denotasi, misalnya aksen,  menjadi suatu code yang tanpanya maka message tidak bisa disampaikan maupun ditangkap.
Selain langue dan parole, ada dua konsep lagi yang telah dijelaskan juga oleh Saussure, yang pertama adalah idiolek,  yaitu : “langage sebagaimana yg dipakai oleh satu individu”, sebagaimana dikatakan oleh Martinet,  atau “permainan utuh kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki oleh satu individu di satu saat tertentu” sebagaimana dikatakan oleh Ebeling.
Pengertian idiolek di atas ditolak oleh Jacobson, karena menurut Jacobson pengertian idiolek itu bersifat ilusi. Menurut Jacobson, saat individu berbicara dengan orang lain, individu itu menggunakan langage atau kosakata yang dikuasai orang lain itu. Akan tetapi, pembahasan tentang idiolek tetap penting untuk membicarakan realitas-realitas sebagai berikut:

-          Penderita aphasia, karena mereka memiliki idiolek murni.
-          Style pengarang, karena mengikuti model verbal tradisi yang berasal dari kolektivitas.
-          Ekstensi pengertian idiolek dengan definisi bahwa langage dari sekelompok orang yang menginterpretasikan semua ujaran linguistis dengan satu cara yang sama. Maka, idiolek mirip dengan penulisan.
Usaha pencarian untuk konsep idiolek hanya menjadi kebutuhan untuk menjembatani antara langue dan parole (seperti halnya teori usage oleh Hjemslev). Dengan kata lain, pencarian konsep idiolek ini adalah tanda kebutuhan untuk membicarakan parole yang diinstitusionalkan, namun belum menjadi langue yang telah diformalkan secara radikal.
Dengan menggunakan istilah code/message sebagai identifikasi atas langue/parole, maka konsep tambahan yang kedua adalah struktur ganda (duplex structure) yang di-elaborasikan oleh Jacobson. Beberapa kasus khusus mengenai hubungan general code/message adalah dua kasus sirkularitas dan dua kasus overlapping:
-          Message di dalam message (M/M) merupakan kasus umum dari gaya kalimat tak langsung.
-          Nama diri: nama yang dimiliki seseorang, sirkularitas kodenya menjadi jelas (C/C): Jean artinya seseorang yang dinamai Jean.
-          Kasus autonomi, misalnya “rat adalah sebuah suku kata”, di sini rat digunakan sebagai designasi kata rat itu sendiri sehingga message meng-overlapping kodenya (M/C). Struktur ini mencangkup interpretasi-interpretasi yang tujuannya memberi penjelasan; sirkonlokusi-sirkonlokusi, sinonim-sinonim, dan penerjemahan satu bahasa ke bahasa lainnya.
-          Struktur ganda yang paling menarik adalah shifter-shifter (embrayeurs: penggeser). Contoh paling mudah dalam kasus ini adalah tentang kata ganti orang, misal, ‘aku’ merupakan simbol indeksial yang di dalamnya menyatukan ikatan konvensional (‘aku’ dalam bahasa Indonesia, ‘me’ dalam bahasa Inggris, ‘je’ dalam bahasa Prancis) dan ikatan eksistensial (dengan menghubungkan proferasinya (C/M) atau kata ganti orangnya).
2. Dalam Semiologi
Dalam gagasan langue saussurian, linguistik telah mengembangkan aspek system “valeur”; keharus-ada-an suatu analisis yang imanen terhadap institusi linguistisnya. Yang imanen inilah kemudian berkembang dalam ranah filsafat, melalui Marleau-Ponty, yang memperluas pengertian langue/parole dengan menyatakan bahwa setiap proses mengharuskan adanya suatu sistem: dengan demikian jadilah suatu oposisi antara kejadian (evenement) dan struktur.
Selain itu, pengertian Saussurian ini juga mengalami perubahan besar dalam bidang antropologi, melalui Levi-Strauss; oposisi antara proses dan sistem (antara langue dan parole) secara konkret ditemukan dari pertukaran perempuan hingga ke sistem kekerabatan. Nilai epistemologis dari oposisi ini: fakta-fakta langue memang berasal dari interpretasi mekanistis dan interpretasi struktural, dan berasal pula dari fakta-fakta parole yang diperoleh dari kalkulasi makro-linguistik.
Dengan demikian, lewat indikasi-indikasi kasarnya, pengertian langue/parole kaya akan perkembangan ekstra linguistis atau meta-linguistis, sehingga bisa dipostulatkan bahwa kategori general langue/parole memang ada dan dapat diperluas dalam menjangkau semua sistem signifikasi.
Perpindahan langue/parole dalam linguistik Saussure ke semiologi beresiko mengalami modifikasi. Sebagai contoh adalah pembacaan tentang pakaian seperti yang dicontohkan oleh Troubetskoy: dalam pakaian yang dikenakan (yang real), sehingga langue tersusun menjadi:
1. Oposisi-oposisi dari bagian-bagian, pemotongan-pemotongan bagian atau detail yang variasinya membawa kepada suatu perubahan makna.
2. Oleh aturan-aturan yang menentukan asosiasi bagian-bagian antar individu, mungkin seturut panjang tubuh, mungkin seturut ukuran tubuh. Parole mencangkup semua fakta dikenakannya pakaian itu secara individual (tinggi-besarnya pakaian itu, tingkat pemakaian, derajat kebersihan, mania/selera personal, asosiasi bebas bagian-bagiannya; di sini dialektika antara yang menyatukan kostum (langue) dengan pengenaan pakaian (parole) tidaklah sama dengan dialektika yang terjadi dalam langage: pengenaan pakaian selalu merupakan usaha menyesuaikan diri dengan kostum.
Distingsi Saussurian dapat dengan mudah ditemukan bila kita ambil satu system signifkasi yang lain: makanan [nourriture].  Langue alimenter [makanan] tersusun dari beberapa faktor, antara lain:
     1. Oleh aturan-aturan mengenai ekslusi (tabu alimenter).
     2. Oleh oposisi-oposisi bersignifikasi yang dilakukan atas unitas-unitasnya.
     3. Oleh aturan-aturan asosiasi, yang bisa saja simultan, bisa juga suksesif.
     4. Oleh protokol-protokol adat, yang mungkin berfungsi sebagai semacam retorika alimenter.

Menu misalnya menggambarkan permainan Langue dan Parole: setiap menu dibuat dengan referensi pada suatu struktur (nasional atau regional, namun struktur itu disesuaikan dengan hari dan penggunanya, sebagaimana “forma” linguistis digunakan lewat variasi-variasi bebas dan kombinasi-kombinasi yang dibutuhkansi si penutur untuk menyampaikan message tertentu.

Untuk mengakhiri pembicaraan yang mungkin arbitrer tentang perspektif-perspektif distingsi Langue/Parole, ada dua sistem obyek yang memang sangat berbeda satu sama lain, tetapi memiliki kesamaan bahwa keduanya tergantung kepada suatu kelompok pengambil keputusan (fabrikasi): kedua system itu adalah mobil [automobile] dan perabotan [mobilier].

Dalam mobil, “Langue”-nya disusun oleh suatu kumpulan forma-forma dan “detail-detail”, yang strukturnya dibangun secara diferensial dengan membandingkan prototype-prototypenya di antara mereka. Parole-nya menjadi sangat sedikit, sebab jika dihadirkan bersama maka kebebasan pilihan atas modelnya menjadi sangat sempit. Kebebasan eksekusi-nya adalah berkenaan dengan suatu adat penggunaan yang telah berkembang setelah beberapa waktu, maka “forma-forma” yang berasal dari Langue-nya harus melewati masa praktik tertentu agar bisa diaktualisasikan.
Sangatlah prematur jika orang langsung menentukan kelas fakta-fakta langue dan fakta-fakta parole bagi sistem-sistem tertentu, sebab disatu pihak kita belum bisa memastikan apakah “langue” dari masing-masing system yang kompleks dan original itu, (kita mengenal “langue” linguistis, tetapi kita tidak tahu apa-apa tentang langue gambar maupun langue musik). Bagi sistem-sistem yang kompleks atau yang ber-konotasi ini (dua karakter ini tidak saling menyingkirkan), orang tidak bisa mem-predeterminasi-kan kelas fakta-fakta langue dan kelas fakta-fakta parole-nya meski hanya secara global dan hipotetis.
Jangkauan semiologi pada pengertian langue/parole bukannya tanpa menghadirkan beberapa persoalan yang muncul ketika model linguistik tidak bisa diikuti dan harus diubah. Namun persoalan pertamanya berkaitan dengan asal-usul sistem, yaitu dialektika antara langue dan parole yang ada pada sistem itu sendiri. Dalam langage tidak ada satu hal pun yang masuk dalam langue tanpa di uji-coba lebih dulu lewat parole, dan sebaliknya tidak satu pun parole bisa ada (yaitu bisa melaksanakan fungsinya dalam komunikasi) kecuali jika parole itu berasal dari gudang harta langue. Artinya hal seperti ini dapat  diamati sekurangnya secara parsial misalnya dalam suatu sistem seperti sistem makanan, karena di sistem ini fakta-fakta individual inovasi bisa menjadi fakta-fakta langue. 
Pada sistem semiologi lainnya adalah mengguraikan bahwa langue yang dielaborasi bukan oleh masa penuturan melainkan oleh suatu kelompok penggambilan keputusan. Kelompok pengambilan keputusan menjadi asal-usul system itu yang bisa menjadi kelompok yang kurang-lebih kecil. Kelompok ini bisa juga adalah suatu teknokrasi yang berkemampuan tinggi atau bisa juga kelompok yang terpencar-pencar, yang lebih anonim (misalnya seni perabotan, konveksi kelas menengah-bawah).
Di dalam langue-langue tersebut mengalami determinasi yang dilakukan oleh kolektifitas dengan cara: pertama ketika muncul beberapa kebutuhan baru, yang mengikuti perkembangan masyarakat (misalnya, orang afrika memakai pakian Eropa di Negaranya sendiri jaman sekarang, atau lahirnya protokol makanan cepat saji dalam masyarakat industri dan urban). Kedua ketika beberapa imperatif ekonomi mendeterminasi lenyapnya atau muncul digunakannya bahan-bahan tertentu (kain buatan pabrik). Ketiga ketika ideologi yang membatasi penemuan bentuk-bentuk baru, yang mengekang penemuan itu dengan tabu-tabu dan memperketat batas-batas dari apa yang normal.
Persoalan kedua atas pengertian Langue/Parole adalah tentang hubungan antara “volume” yang bisa muncul antara “langue-langue” dan “parole-parole”. Dalam langage, ada suatu disproporsi antara langue berupa aturan yang terbatas dan ditaati oleh parole, namun dalam praktiknya parole memiliki jumlah yang tidak terbatas.  Sehingga menghadirkan suatu perbedaan volume yang besar, sebab dalam “forma-forma kuliner, modalitas-modalitas dan kombinasi-kombinasi eksekusinya tetap berjumlah besar.

Seperti dalam sistem-sistem mobil dan perabotan, luasnya variasi-variasi kombinatoris dan asosiasi-asosiasi bebas, batas antara model dan “eksekusi”-nya sangatlah tipis/kecil jumlahnya, keduanya adalah sistem-sistem yang didalamnya “parole” menjadi sangat miskin. Parole-nya hampir tidak ada, sehingga bisa dikatakan bahwa secara paradoksal ini adalah suatu langue yang tanpa parole.  Memang ada langue-langue tanpa parole atau yang parole-nya sangat sedikit, maka tidak dapat dicegah bahwa harus merevisi teori Saussurian yang menuntut bahwa langue hanyalah suatu sistem diferensi-diferensi (yang karena sepenuhnya “negative” maka tidak bisa disentuh di luar parole), dan harus  melengkapi pasangan Langue/Parole dengan elemen ketiga, yang pada mulanya sudah bersignifikasi baik berupa materi maupun substansi dan menjadi support (yang harus ada) bagi sigfinikasi.

Dengan demikian mendapati tiga wilayah (dan bukan dua) dalam semua sistem semiologis (non-linguistis) yaitu : materi, langue dan penggunaannya. Tiga wilayah ini memungkinkan menjelaskan beberapa system yang hadir tanpa “eksekusi”, sebab elemen pertamanya memastikan materialitas langue-nya. Jika dalam system itu, “langue”-nya membutuhkan “materi” (dan tidak lagi memerlukan “parole”), maka itu adalah karena system-sistem itu secara general memiliki asal usul yang utiliter (bukan bersignifikasi), dan ini kebalikan dari langage manusia.

KESIMPULAN

Roland Barthes memakai teori linguistik modern yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure dan menguraikan perkembangan dari teori tersebut dengan menguraikan beberapa perubahan dari langue dan parole melalui pemikiran Hjemslev dan Jacobson. Barthes mengembangkan teori tentang langue dan parole tidak semata-mata hanya di dalam kajian bahasa tetapi juga kajian masyarakat: antropologi dan sosiologi. Dalam hal ini, Barthes memakai penjelasan Marleau-Ponty dan C. Levi-Strauss. Barthes melihat bahwa, dalam perkembangannya, langue menentukan parole (dalam perspektif semiologi) dan bila ada perubahan dari langue ke dalam parole, perubahan tersebut tidak bisa dilakukan secara radikal, sebagaimana hal itu dikemukakan dalam contoh kasus mobil dan mode. Di tambahkan pula, menurut Barthes, kita masih memiliki ruang kreatif melalui parole (pengembangan lebih jauh dari yang telah dikembangkan Saussure).
           
REFERENSI
De Saussure, Ferdinand. 1986. Course in General Lingustics. Translated by: Roy Harris. Illinois: Open Court.
De     Saussure, Ferdinand. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Diterjemahkan oleh Rahayu S. Hidayat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Barthes, Roland. 1968. Elements of Semiology. Translated by: Annette Lavers and Colin Smith. New York: Hill and Wang.
Barthes, Roland. 2007. Petualangan Semiologi. Diterjemahkan oleh: Stephanus Aswar Herwinarko. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gordon, W. Terrence. 2002. Saussure untuk Pemula. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Osborne, Richard. 2001. Filsafat untuk Pemula. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

1 komentar: